#2

Aku hanya bisa berdiri terpaku menatap gerimis. Dingin. Hampa lebih tepatnya, untuk apa yang kurasakan saat ini. Ada perih di dada, yang awalnya masih bisa kusudahi rasa nyeri itu dengan hembusan nafas panjang, tetapi semakin lama semakin terasa menyesakkan.

Ini adalah takdirku. Aku juga tidak ingin memilih Dan, dan seharusnya kamu tidak membiarkan aku untuk memilih.

 

                                                                                                Yours, Alya.

Surat yang teramat singkat buatku yang sebenarnya menginginkan jawaban lebih jelas untuk semua hal yang terjadi diantara aku dan Alya. Kenapa aku bisa tega melakukan ini padamu Alya, aku merasa hampa dan kosong. Biasanya saat-saat seperti ini kamu selalu bisa membuat aku merasa hangat, dengan tawa ceriamu kamu bisa membuat ku sejenak melupakan masalahku, tapi kenapa aku baru menyadari semua itu ketika aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku Alya…

” Danar, kita jalan yuk, anak2 udah setuju nih, kalo mau kita jemput ya! ”, sms dari bayu.

” Lagi males gw…pengen di rumah aja nemenin nyokap gw ” , Aku.

” Kalo gitu gimana kalo kita kesana, didit punya game baru nih…kita kesana ya, boleh ga? ”, Bayu lagi. Hmm…aku rasa mereka hanya ingin menghiburku.

” So sorry guys, but i really need to be alone ”. Really sorry guys….

Kotak itu selama ini tersimpan baik di atas lemariku, selama ini hanya Alya yang pernah kuijinkan membukanya. Isinya barang-barang lama, bola baseball ku yang pertama, kacamata pemberian mantan pacar pertama saat di smp, foto kita berlima mulai dari lulus SMP, SMA, masuk kuliah, wisuda, dan aku temukan foto kenangan itu. Foto aku dan alya, kita sama2 tertawa lepas di foto itu, berdua, tanganku mengusap kepalanya dan dia tertawa bahagia sekali. Didit jadi saksi hidup semua kejadian itu. Hari yang sangat membahagiakan, terutama buat kita berdua.

Hari itu, kita berlima liburan ke pantai, menikmati damainya sunset, bernyanyi, tertawa, dan saling introspeksi diri. Aku ingin kembali di masa itu, saat dimana aku baru menyadari kalau ternyata, aku sering memergokimu menatapku. Dan saat dimana kita duduk hanya berdua menikmati indahnya matahari terbit, kamu dengan segenap keberanianmu, bilang sama aku : Danar, aku sayang sama kalian semua, tetapi aku sayang kamu lebih dari yang lain.

Aku belum bisa membalas perasaanmu Alya. Demi persahabatan, demi Kiki, Bayu, dan demi kita berdua…juga demi Didit. Aku pikir awalnya akan mudah menjalani itu semua, tetapi ternyata aku salah. Perasaan sayang ini justru tumbuh semakin besar, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa karena keegoisanku. Aku ga tau harus menyesal atau ga, karna aku masih sering melihat dirimu tersenyum dengan pilihanmu sekarang. Tapi aku baru merasakan bahwa ternyata sesakit ini. God, i miss her…

~ by nixnox911 on April 19, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 764 other followers